16 Juni 2009

What We Get is What We Want To Get

Sebagai orang yang berusaha "membudidayakan" kata maaf dalam kehidupan sehari-hari, ijinkanlah kali ini saya memohon maaf lagi kepada teman-teman semua jika akhir-akhir ini saya jarang berkunjung ke blog teman-teman semua atapun memberikan komentar atau sapaan di blog teman-teman. Walaupun bagi sebagian orang (mungkin) merasa pantang untuk mengucapkan kata "ajaib" yang satu ini, karena banyak anggapan bahwa orang yang meminta maaf akan dianggap lemah, kalah, atau tidak berdaya. Tapi bagi saya, memohon maaf berarti menunjukkan rasa rendah hati saya sebagai seorang manusia biasa yang tidak mungkin luput dari kesalahan. “Maaf” juga dapat membantu kita dalam ‘proses mengampuni’ diri sendiri - yang pada akhirnya dapat membawa ke proses ‘mengampuni orang lain’. “Maaf” bukan berarti kalah, sebaliknya, maaf membuat kita belajar menghargai orang lain yang pada akhirnya akan membawa ‘kemenangan tak terduga’ pada diri kita - “Maaf” memberi pelajaran bahwa ‘kebenaran adalah hak bagi semua orang’. Dan jangan takut untuk meminta maaf! Jangan pernah khawatir “Maaf”-mu tidak diterima. Bukankah di dalam lubuk hati terdalam setiap manusia, akan selalu ada keinginan untuk memaafkan dan mengampuni orang lain?

Nah, sekarang kembali ke laptop.. eh salah, kembali ke Topik. Kali ini saya akan sharing tentang sebuah cerita.

Alkisah ada seorang psikolog yang terkenal melakukan sebuah eksperimen luar biasa. Dia dan timnya memberikan sebuah tes IQ kepada seluruh murid di suatu sekolah sebelum akhir masa sekolah. Kemudian mereka memilih sepuluh siswa dan mengatakan pada setiap guru dari siswa itu, “Kesepuluh siswa ini akan berada di kelas Anda. Kami tahu dari tes mereka bahwa secara teknis mereka memang siswa yang cerdas. Anda akan melihat bahwa mereka semua akan menjadi yang teratas di dalam kelas mereka pada tahun ajaran berikutnya. Anda harus berjanji untuk tidak mengatakan hal ini kepada setiap murid, karena akibatnya akan merugikan mereka. ”
Dan para guru itu pun berjanji untuk tidak mengatakan apa pun kepada para siswa tersebut.
Padahal kenyataannya adalah bahwa tak satu pun siswa dari daftar tersebut benar-benar cerdas. Kesepuluh anak itu pun hanya dipilih secara acak dan kemudian diserahkan pada guru untuk dididik dan dibina.
--------------------------------------------------------
Setahun kemudian para psikolog itu kembali ke sekolah tersebut. Mereka menguji seluruh siswa. Beberapa dari mereka yang dikatakan cerdas tersebut nilainya naik tiga puluh enam poin. Para psikolog itu mengadakan wawancara dan bertanya kepada para guru, “Menurut Anda bagaimana murid-murid ini?” Para guru itu pun segera menyahut dengan menggunakan kata-kata sifat seperti “pintar”, “dinamis”,“menyenangkan”, “menarik”, dan sebagainya.

Apa yang telah terjadi pada siswa-siswa tersebut seandainya para guru tidak berpikir bahwa mereka memang cerdas di kelas? Justru guru itulah yang telah mengembangkan seluruh potensi siswa-siswa tersebut.

Seseorang yang biasa sekalipun, jika ia dilatih, dimotivasi, dan dimaksimalkan, hasilnya akan seperti 10 siswa beruntung tadi. Meskipun ia dipenuhi keterbatasan. Kita lihat bagaimana seorang Thomas Alfa Edison, yang dianggap siswa lamban di kelasnya, akhirnya menjadi salah seorang penemu terbanyak di sejarah modern. Entah bagaimana jadinya jika ia diperlakukan seperti kesepuluh anak tadi, wah.. bisa bisa bom atom muncul lebih dulu sebelum jamannya Einstein.

Kita lihat juga seorang Hellen Keller yang sudah tuli, bisu, dan buta sejak dia berumur kurang dari 2 tahun. Sebagai seorang biasa, kita mungkin akan bingung bagaimana mengatasinya dan bagaimana mengajarinya. Barangkali kita akan berpikir sebaiknya ia dibiarkan hidup, dimanja dan dilayani, meski ia tidak akan tahu apa-apa sampai ajalnya. Namun tidak dengan orang-orang dekatnya. Mereka menemukan suatu cara mengkomunikasikan dengan anaknya lewat indra perabanya. Ia pun tidak dimanja, justru dididik dengan keras, hingga akhirnya kita tahu bahwa Hellen Keller, dengan segala keterbatasannya bisa menjadi seorang pengacara tenar dan penulis ternama di masanya.

IQ kita memang boleh biasa-biasa saja, namun jangan salahkan kita apabila suatu saat kita bisa melampaui seseorang yang dianggap paling jenius di negeri ini. Jangan pernah menganggap anda adalah seorang rakyat kecil, hanya karena anda tidak punya kekuasaan atas orang disekitar anda. Jangan pernah menganggap anda miskin hanya karena anda tidak bisa membiayai sekolah anda. Dan Jangan pernah menganggap Anda bodoh, hanya karena anda kalah pintar dengan pesaing Anda.

Ingat kata-kata seorang Thomas Alfa Edison yang dahulu pernah dicap bodoh oleh guru-gurunya:

"Keberhasilan itu hanya 1% kejeniusan. 99% -nya adalah kerja keras"

Anggaplah bahwa anda adalah orang yang "besar" (tentunya tidak harus dalam arti fisik) yang mampu membawa orang disekitar kita menjadi lebih baik, orang yang sangat kaya sehingga mampu bersedekah, dan orang yang sangat pintar sehingga mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Namun tentu saja, janganlah Anda sombong dan Takabur hanya karena anda menganggap semua itu secara berlebihan. However, Allah is The Greatest. Tuhan adalah Yang Maha Segalanya.

Kondisikanlah orang-orang disekitar Anda untuk menganggap anda sebagai orang yang lebih, dan kelebihan itu lama kelamaan akan muncul dalam diri anda dengan lebih cepat dari sebelumnya. Jika anda tidak bisa mengkondisikan orang-orang disekitar Anda untuk menganggap anda seperti para guru diatas menganggap sepuluh siswa beruntung, alihkan guru itu dan siswa itu menyatu dalam diri Anda. Anda adalah seorang guru yang menganggap diri anda juga sebagai murid yang pandai. Insya Allah, kepandaian itu juga akan datang asalkan anda juga belajar dan berusaha untuk meraihnya. What We Get is What We Want To Get...
Good Luck ya.. sobat!!!

33 komentar:

rizky mengatakan...

Bagoss sekali postingan ini... memang benar kata orang mintak maaf itu hal yg sulit dan memaafkan orang yg telah berbuat salah besar kepada kita adalah suatu hal yg sangad amat sulit sekali, namun kita haruslah mempunyai jiwa yg lapang :D

Seno mengatakan...

Selalu saya dapat inspirasi dari tulisan2nya Bunda. Saya setuju dengan pendapat sebagian orang bahwa tidak ada orang bodoh, yang ada hanya siswa yang malas.

Semua yang akan kita raih adalah apa yang kita niatkan dan apa yang kita ikhtiarkan ya Bun.

namaku wendy mengatakan...

suka banget ma cerita Hellen Keller, inspiratif banget sama perjuangannya tu, apalagi gurunya yg sabar banget ngedampingin:)

umi rina mengatakan...

Nabi besar Muhammad SAW adalah seorang dari bangsa Ummiyyah (buta huruf) yang tidak bisa menulis dan berhitung (HR. Abu Dawud). Namun dengan kuasa dan kehendak Allah Ta'ala, beliau telah menjadi seorang yang menjadi contoh dalam banyak hal bagi umat sedunia sampai akhir jaman.

Terkadang manusia itu sering terjebak dalam permainan 'mindpower' dan hawa nafsu. Semoga kita bisa belajar untuk tidak terjebak di dalamnya.

DUNIA POLAR mengatakan...

aku suka banget mbak sm postingan ini, boleh nggak yah aku copy di laptieku?? buat renungan tmn2

reni mengatakan...

Mbak.., artikelnya bagus sekali.
Apa yang kita pikirkan.., itulan yang kita dapatkan.
Jadi, itulah gunanya berpikir positif ya mbak...

suryaden mengatakan...

seakan mendapat nyawa baru saya

buwel mengatakan...

Woooow siiiip, penuh pencerahan....

TRIMATRA mengatakan...

hasil akhir itu tergantung proses yang menyertainya...

benda yang tumpul jika diasah dengan teliti dan telaten maka bisa setajam pisau dokter bedah...

rayearth2601 mengatakan...

betul budhe, kerja keras, pantang menyerah dan berdoa serta tawakal, kunci kesuksesan

Penny mengatakan...

@Rizky: hi Bro, salam kenal. Yup, bener banget tuh.. setuju...
@Seno: dia jadi "bodoh" krn malas (malas belajar, malas berusaha, dan malas2 yg lain :-))
@Umi Rina: Beliau adalah suri tauladan kita semua.
@Dunia Polar: oh.. boleh banget dong.Silahkan aja... Makasih bila bermanfaat.
@Reni: stop negative thinking mba hehehe
@Rayearth: duh.. ponakan satu ini kemana aja ya?? budhe kangen nih hihhii

Hamster Copo mengatakan...

Keberhasilan itu hanya 1% kejeniusan. 99% -nya adalah kerja keras...begitu melihat kata itu aku langsung tersentuuh,,dan aku pikir--pikir emang ada benarnya juga.."selama kita ada mau dan usaha pasti disitu ada jalan"

Hamster Copo mengatakan...

Eeeh ada yang ketinggalan niih!!
Salam kenal neng,,kapan--kapan mampir ketempat aku yaa

riosisemut mengatakan...

Wuik.. apa emang gt ya? Cuma 1%?? Kecil bngt...

Hahahaha... prolognya itu loh.. jd kesindir aku, aku kan jarang bngt minta maaf, hahaha...

Awal Sholeh mengatakan...

ketinggalan neh saya bunda. memaapkan sulit tanpa didasari rasa ikhlas. ;P nice post

bunda top komentator itu ranking yg paling banyak koment yah?

cebong ipiet mengatakan...

makasi kunjungannya jeng :) dan tulisannya yg inspiratif

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

tulisan yg menarik dan memotivasi saya utk terus berkarya. walau saya tahu, tulisan saya tak seindah karya para pujangga tersohor, tapi..saya akan terus menulis. Yang penting adalah saya terus berusaha utk menghasilkan tulisan terbaik.
Terima kasih ya sudah memotivasi saya.

galuharya mengatakan...

saya lebih senang menganggap itu sebagai penyugestian diri

semakin kita mensugesti hal yang baik maka niscaya akan terjadi hal yang baik juga,begitu juga pun sebaliknya

artikel yang manis mbak
salam kenal

Itik Bali mengatakan...

Keren sekali postingannya mbak
bagus buat bahan perenungan
emang gak ada salahnya kita minta maaf
minta maaf bukan berarti kalah

Henny Y.Caprestya mengatakan...

aduuuh..
postingan ini ngingetin sama kejadian hari ini :(

salam kenal juga mbak penny..
^^

Ani mengatakan...

Setuju dan seia sekata dengan dirimu kok djeng, menc=gucapkan kata maaf itu perlu dan penting ...

nietha mengatakan...

Minta maaf itu susah, memaafkan juga nggak gampang..bener banget mbak apa yang diposting disini..

Rana Rasuna mengatakan...

"What We Get is What We Want To Get" yup,, dan biar langit menjadi batas pencapaian kita...

angga chen mengatakan...

setuju....setiap individu adalah mahluk yang unik yang dibekali banyak kemampuan dan ketrampilan hanya saja individu itu tidak tahu akan kemampuannya itu....ukuran keberhasilanmu kadang ditentukan oleh seberapa besar mimpimu dan sekuat apa ambisimu..! thanks

Cara Buat Situs mengatakan...

lebih mulia meminta maaf dari pada memaafkan...
walaupun memaafkan lebih sulit dari pada meminta...
meminta maaf sungguh sulit, selain karna rasa egoisme yg tinggi n rasa yg malu untuk meminta maaf...

sungguh mulia orang yang meminta maaf :d

nice post n salam kenal yah :D

suwung mengatakan...

wah diriku malah tersugesti kalo ngak punya otak bin males lagi... gimana nih?

RanggaGoBloG mengatakan...

minta maaf dan memaaafkan... hal yang sangat sulit buatr sayah....

Seno mengatakan...

He..he.. iya bun, semoga Chris Menang, buat kebanggaan bangsa ditengah2 berita duka melulu yang kita terima akhir2 ini hiks..

Seno mengatakan...

He..he.. iya bun, semoga Chris Menang, buat kebanggaan bangsa ditengah2 berita duka melulu yang kita terima akhir2 ini hiks..

mama hilda mengatakan...

mbak belum tuntas bacanya, ntar balik lagi..masih ngurusin template ini hihihihi..thnx ya udah di tengokin

attayaya mengatakan...

maaf mba
aku baru bisa datang berkunjung

harry seenthing mengatakan...

wow postingan yang bagus nih mba, aku baca ampe gag isa koment

Fanda mengatakan...

Memang Tuhan telah memberikan kemampuan yg tak terbatas bagi manusia. Maka yg membatasi kita sebenarnya adalah impian kita dan apa yg kita pikirkan ttg diri kita sendiri.