Bila kita sedang duduk di bangku sekolah, ujian dilakukan agar kita naik kelas. Pada saat kuliah, ujian kita jalani agar kita bisa naik tingkat ke yang lebih tinggi. Sementara dalam hidup, ujian bisa jadi sarana penghapusan dosa kita dan peningkatan derajat kita di mata NYA.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS Al Ankabuut : 2)
Ujian terkadang datang bagaikan palu godam yang menghantam atau berupa beban berat yang menggayut di pundak. Kadang pula serasa menekan dan menyesakkan dada. Dunia terasa gelap dan sempit. Cahaya redup berpendar-pendar. Ya, terkadang kita merasa tidak kuat menahan ujian hidup ini. Beranggapan bahwa Allah (Tuhan) tidak adil terhadap kita, dan mulai berprasangka buruk terhadap Nya (astaghfirullah).
Padahal, ujian itu sebenarnya adalah bukti kasih sayang Nya kepada kita. Ujian terkadang ada yang terasa manis (misalnya ujian berupa harta benda/kekayaan), adakalanya juga terasa pahit (musibah/cobaan). Sama seperti halnya ujian saat kita sekolah/kuliah, adakalanya mudah untuk dilalui, adakalanya juga sulit untuk dilalui. Ujian juga merupakan "sentilan" kepada kita, bila kita telah "menyimpang" dari jalan yang telah diajarkan Nya.
Sahabat, menolehlah ke sekitar. Lihatlah, ada jiwa lain yang juga diuji olehNya. Dan ia tegar. Padahal, sepertinya ujiannya begitu berat. Melihat ke ujian diri sendiri ternyata bagai debu saja. Tuhan pasti tahu apa yang terbaik buat umat Nya. DiberiNya cobaan, diberiNya pula kekuatan untuk menghadapi Nya. Semua sesuai kapasitas. Menolehlah Sahabat.
Setiap jiwa mendapat soal ujian. Dan setiap jiwa telah disediakan jawaban. Hanya, sudahkah kita menggali dan mencari jawaban-jawaban dariNya???
Sekolah, bukanlah sekolah jika tanpa ujian. Begitu pula hidup, hidup adalah sebuah sekolah abadi. Dan ujian adalah sebuah pengharapan. Terhapusnya dosa atau naiknya derajat di mataNya.
Wallahu alam bissawab, semoga bermanfaat....
Baca Selengkapnya...
10 September 2009
UJIAN
08 Juni 2009
Semailah Kebaikan Setiap Waktu, Selagi Bisa
Waktu itu sebenarnya ibarat ladang amal bagi kita yang menyadari arti penting dari waktu yang telah diberikan Nya kepada kita. Bagi yang muslim, Allah SWT telah menyediakannya agar kita menggunakannya sebagai modal penting menggapai ridha dan surga-Nya. Karena keutamaan seseorang di sisi Allah adalah selain ditentukan oleh keimanan dan amal shalihnya, juga ditentukan oleh faktor keterdahuluannya dalam mewujudkan rasa keimanan dan mengerjakan amal shalihnya. Misalnya tidaklah sama antara jamaah yang berada di shaf awal dalam shalat dengan yang berada di barisan paling belakang, dan seterusnya.
Demikian juga bagi yang non muslim, pasti Tuhan telah mengkaruniakan waktu kepada umat Nya untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dipergunakan untuk banyak beribadah kepada Nya, beramal di jalan Nya, dan berbagai kegiatan rohani yang lain diluar segala aktifitas duniawi yang juga kita lakukan.
Saudaraku…
Segala hal yang ada dalam kehidupan orang yang beriman bisa menjadi ladang amal kebaikan. Kita membuang sampah pada tempatnya itu amal baik. Berniat tidak bohong itu amal mulia. Mengucapkan salam kepada kawan itu amal yang terpuji. Mendo’akan teman/saudara kendati mereka tidak mengetahuinya, itu juga amal shaleh. Dan masih banyak lagi amal shaleh, amal kebajikan yang bisa kita lakukan, sekalipun kita tak memiliki sesuatu apapun (harta). Tuhan dengan segala keadilan-Nya memberikan peluang amal kepada masing-masing hamba-Nya. Baik orang miskin maupun kaya, masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kebajikan dan mendapatkan ridha Nya. Lebih dari itu, suatu amal tidak dilihat dari kuantitasnya, tapi dilihat dari motivasi dan niatnya. Kualitas amal seseorang tergantung kepada motivasi dan niatnya. Boleh jadi infak seorang buruh sebesar 1000 rupiah, itu dimata Nya sama nilainya dengan infak seorang direktur sejumlah Rp. 1.000.000.000,00. Seorang murid barangkali lebih mulia dibandingkan dengan seorang gurunya, karena si murid lebih sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sementara sang guru merasa cukup dengan ilmunya.
Selanjutnya, mengapa kita mesti menyegerakan dalam beramal?
1. Karena asset waktu yang kita miliki hanyalah saat ini.
Apa yang terjadi nanti dan esok hari kita tidak tahu. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Kebaikan dan keburukan yang kita kerjakan kemarin tidak bisa kita ulang lagi. Ia menjadi kenangan saat ini. Jika kebaikan, bersyukurlah kita, dan jika keburukan menyesallah bersama orang-orang yang menyesal. Masih beruntung jika kita bersyukur hari ini, bukan saat di mana penyesalan tidak ada artinya lagi. Esok hari juga belum tentu menjadi milik kita, kita tidak tahu apakah esok hari masih bisa menghirup udara pagi?
2. Karena kemuliaan derajat seseorang di sisi Nya adalah disebabkan oleh kesungguhannya dalam merespon seruan kebajikan dan mengamalkannya.
Orang tua akan senang jika menyuruh anaknya mengerjakan sesuatu dan perintahnya tersebut segera dikerjakan oleh anaknya. Sebaliknya ia akan marah jika si anak menunda-nunda mengerjakannya. Bila orang tua kita marah jika kita menunda-nunda pekerjaan yang telah diperintahkan kepada kita untuk segera dikerjakan adalah sangat wajar dan lumrah bila Allah juga akan “marah” pada kita bila kita melanggar perintah Nya bukan??
3. Karena setiap waktu ada momentnya sendiri.
Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak sekali amal perbuatan yang sangat terkait dengan waktu. Misalnya ketika waktunya berakhir, berakhir pula kesempatan untuk mengerjakannya. Seperti shalat, puasa, haji, berkurban, dan lain sebagainya.
4. Kesempatan beramal juga diberikan kepada seseorang pada waktu-waktu tertentu dan sesuai porsinya.
Orang kaya diberi kesempatan beramal dengan kekayaannya. Orang berilmu diberi kesempatan beramal dengan ilmunya. Seorang pimpinan diberi kesempatan beramal dengan kekuasannya. Jangan sampai pada saat Tuhan mencabut segala kesempatan yang telah diberikan Nya itu, kita baru menyadari bahwa kita sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Kesehatan, waktu luang, hidup, masa muda, dan kekayaan adalah kesempatan untuk beramal. Gunakan sebaik-baiknya masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehat mu sebelum datang masa sakitmu, dan waktu luangmu sebelum datang waktu sempitmu.
Saudaraku…
Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Saat inilah waktumu. Segeralah beramal sesuai dengan tuntutan waktunya. Kejarlah kebajikan sampai ke liang lahat, sampai ajal/maut menjemput kita.
Semoga bermanfaat…
Baca Selengkapnya...
05 Juni 2009
Berbuat Kebaikan Tidak Ada Ruginya
"jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendir” (Al-Isra’:7)Setiap orang akan menuai apa yang ditanam
Tidak semua orang mampu berpikir panjang. Apalagi dengan perhitungan yang teliti. Itulah kenapa tidak sedikit yang melakukan sesuatu cuma buat keuntungan sesaat.
“Yang penting saya untung, peduli amat orang lain!”
Padahal, alam mengajarkan bahwa aksi sama dengan reaksi. Apa yang diterima alam, itulah yang akan diberikan ke manusia. Ada banjir karena keseimbangan alam terganggu: penebangan hutan, buang sampah ke sungai, dan lain-lain. Begitu pun dalam pergaulan sesama manusia. Kita akan menerima apa yang telah kita berikan. Jika kebaikan yang kita berikan, balasannya pun tak jauh dari kebaikan. Bahkan, mungkin lebih. Kita lihat tingkah para pedagang, baik barang maupun jasa, paham sekali rumus ini. Kalau mereka ingin mendapat kebaikan dari konsumen, pancingannya pun dengan sesuatu yang baik. Ada pedagang yang menyediakan air minum kemasan gratis, keramahan para pelayan, bahkan ruangan khusus untuk menunggu. Mereka menganggap: konsumen adalah raja.
Jika kita tidak ingin keburukan, begitu pun orang lain
Semua orang ingin mendapatkan yang baik. Begitu pun sebaliknya. Tak ada yang ingin mendapatkan yang buruk. Cuma masalahnya, sikap itu tidak diiringi dengan aksi yang positif. Ketika menginginkan selalu ingin mendapatkan yang baik, tapi saat memberi selalu/sering yang buruk. Ayo, bener ngga sih??
Sebenarnya, ketika seorang melakukan sesuatu yang buruk, saat itu juga ia sedang berharap ada keburukan yang akan ia terima, baik itu disadari ataupun tidak. Sayangnya, jarang yang mau bercermin diri: apa yang telah saya lakukan? Lebih banyak mana: baik atau buruk? Baru kemudian, kenapa orang lain berbuat buruk pada saya?
Padalah Agama telah mengajarkan untuk membalas keburukan dengan cara yang terbaik.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
Ini memang berat. Ajaran ini lebih tinggi dari sekadar kebaikan berbalas kebaikan, dan keburukan berbalas hal serupa. Lebih dari itu, memberikan reaksi dari sebuah keburukan dengan sudut pandang positif. Dan hasilnya sangat luar biasa. Keburukan bukan hanya hilang, tapi berganti dengan kebaikan.
Berpikirlah apa yang bisa diberikan, bukan yang diterima
Semangat berbuat baik memang tidak akan tumbuh dari mereka yang punya sikap pasif. Ketika yang dipikirkan seseorang cuma bagaimana menerima, darimana datangnya penerimaan; seluruh otot aktivitasnya menjadi mandul. Semangat berbuat baiknya sudah mati sebelum fisiknya benar-benar mati. Tentunya, sulit mendapatkan sesuatu yang positif dari orang tipe ini. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, mengawali kebaikan pun terasa berat. Semua aktivitasnya terkungkung dalam kalkulator sempit. Hitungannya selalu pada keuntungan materi sesaat. Bukan sesuatu yang lebih mahal dari sekadar materi. Antara lain, ketenangan, keharmonisan, cinta dan persaudaraan.
Tokoh Anwar Ibrahim mungkin salah satu contoh baik. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia ini pernah difitnah secara keji. Tidak tanggung-tanggung, ia dituduh pelaku korupsi dan kejahatan homoseksual. Namun, seluruh warga tempat tinggalnya siap menjadi saksi: bahwa Anwar mustahil seperti yang dituduhkan. Itulah buah baik yang selama ini telah ditanam Anwar. Masyarakat sekitarnya, tanpa diminta pun, siap menjadi pembela.
Dari uraian di atas kita jadi tahu bahwa pada prinsipnya tidak ada ruginya kok berbuat baik kepada oranglain, bahkan kepada orang yang telah berbuat ”jahat” kepada kita. Capek klo tiap kali ada yang berbuat jahat pada kita, kita sibuk memikirkan untuk balas dendam atas kejahatan yang telah dilakukannya, dst...dst.. saling membalas dendam yang tidak ada akhirnya, itulah yang akan terjadi. Dan sepertinya hal seperti itu gampang sekali kita temukan saat ini.
Ingatlah bahwa Tuhan itu Maha Tahu, Maha Adil dan Tidak Tidur. Kebaikan kita sekecil apapun pasti akan dilihat Nya, dan akan bernilai pahala dimata Nya (asal dilakukan dengan ikhlas). So... .. tunggu apa lagi....berbuat baik yukkkk...
Baca Selengkapnya...
02 Juni 2009
Jadilah Diri Anda Sendiri
Sahabatku, sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.
Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang remeh. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.
Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda “berbeda”.
Jujurlah dan katakan pada mereka, "Maaf, ini bukan bidang saya". Saya kurang ahli pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Tapi saya punya keahlian di bidang yang lain. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak. Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya.
Wahai sahabatku,
Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. (QS. 3: 188).
Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.
Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Nya (”beribadah” disini artinya adalah melakukan suatu perbuatan hanya karena ingin mendapatkan ridho dan pahala dari Nya semata); kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan (Dr. Aidh Al Qarni). Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.
Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Nya semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya, karena menurutnya: Kebanyakan manusia tiada mengetahui. Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dan jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri (QS. 8: 47).
Wahai sahabat, Hiduplah dengan menjadi diri Anda sendiri walaupun terkadang itu tidak mudah melakukannya.
Semoga bermanfaat
Baca Selengkapnya...
27 Mei 2009
Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah
Maaf, ini bukan promosi nama salah satu program realiti show yang ada di salah satu TV swasta yang ada, tapi hanya berusaha sharing sebuah cerita yang saya dapat dari email seorang teman.
Alkisah, di salah satu sudut kota Pontianak, ada seorang wanita yang bernama Memei. Entah siapa nama lengkapnya, namun hanya dengan kata itu ia biasa disapa. Tempat tinggalnya di seberang kota Pontianak, dipisahkan sebuah jembatan yang membelah Sungai Kapuas. Dengan menggunakan sampan, dilanjutkan berjalan kaki, Memei suka berkunjung ke rumah-rumah. Kedatangannya kadang disambut dengan gembira oleh seluruh penghuninya, tak jarang pula sebaliknya.
Memei bukan orang terkenal, bukan pula artis, apalagi seorang calon bintang jebolan AFI, Indonesian Idol bahkan KDI. Jelaslah bukan. Tubuhnya kecil mungil, dibalut kulit yang hitam legam karena selalu mandi sinar mentari. Namun kecantikan di masa mudanya masih tersisa. Hidung mancung, juga senyum dan gaya tertawa membuat orang lain suka melihatnya, padahal tak satu jua giginya yang tampak ada. Ia memang orang biasa, bahkan mungkin teramat biasa. Seorang nenek yang mempunyai beberapa cucu dari anak-anaknya, hidup dengan sangat sederhana. Ke-empat anaknya pun hanyalah rakyat jelata, yang setiap hari harus mengadu nasib agar tak tergusur oleh kerasnya kehidupan. Sebagai seorang yang mulai renta, mestinya Memei bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Duduk di sebuah kursi goyang kayu untuk menghabiskan waktu, atau bermain dengan cucu-cucu. Namun usia tua tak menghalanginya untuk selalu ke luar rumah, mengetuk pintu-pintu, menawarkan jasanya. Ya...Memei hanyalah seorang pemijat. Berbekalkan lotion atau minyak urut, ia berkeliling ke setiap rumah. Di usia yang semakin senja, dan kemiskinan yang mengguratnya, ia tak mau hanya sekedar meminta-minta. Padahal siapa saja yang melihatnya pasti jatuh kasihan. Dengan keahliannya memijat, ada saja orang yang memerlukan jasanya, namun sering pula ia pulang dengan tangan hampa. Memei pun tak malu kalau diminta mengepel lantai rumah, dan selalu dilakukannya dengan tangan. Disapunya kain lap di setiap permukaan lantai, dikoreknya setiap lubang yang ada sampah, lalu tangannya meliuk-liuk bagaikan membelai dan mengurut tubuh-tubuh yang lelah. Tak jarang pula ia diminta menunggui rumah karena seluruh penghuninya harus pergi bekerja. Untuk setiap jasanya, Memei tak pernah meminta uang lebih sebagai upah, cukup sekedarnya saja. Kini Memei mungkin masih mengitari setiap rumah, menyusuri sebagian jalan di kota Pontianak. Turut menghirup asap knalpot dan debu jalanan yang pekat, serta bermandikan sengatan terik mentari Khatulistiwa.
Memei adalah seorang pemijat, bahkan tua, bisu dan tuli. Tapi ingatlah, Allah tak akan pernah menciptakan setiap makhluk dengan sia-sia. Dari setiap ciptaan, pasti begitu banyak hikmah yang mengalun indah. Mengajarkan kepada setiap hamba-Nya, untuk selalu memetik pelajaran dari apa yang tercipta di dunia. Memei telah mengajarkan bahwa cinta dan kasih sayang adalah kerja yang penuh berkah. Baginya, usia tua dan kemiskinan bukanlah alasan untuk sekedar menengadahkan tangan sambil meminta sedekah. Kehidupan baginya adalah mempunyai makna bekerja, bukan dengan bermanja-manja. Sikapnya yang amanah, pun mestinya bisa jadi cermin bagi siapa saja. Begitu malunya kita yang masih muda (lebih muda dari Memei) bila hanya berpangku tangan atau mungkin hanya menengadahkan tangan meminta bantuan yang lain, tanpa adanya satu keringatpun yang keluar dari diri kita.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari seorang sosok wanita yang bernama Memei ini. Di segala keterbatasan dan kekurangannya, begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Kita yang masih muda, seharusnya meniru sosok perjuangan Memei yang tak kenal lelah dan tak mudah putus asa atas segala kekurangan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Semangatlah dalam mengarungi hidup ini.
Baca Selengkapnya...
24 Mei 2009
Tuhan Menjawab Do'a Dengan Caranya
"Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-Nya (Glenn Clark)"
Pada suatu hari, ada seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Sang keponakan biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ternyata salah satu kelerengnya hilang.
Tiba-tiba anak itu berkata: "Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?".
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran. Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan (dengan demikian melemahkan imannya, ...) dengan khawatir bertanya:
"Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?".
"Tidak Bi", jawab anak itu, "tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi".
Alangkah indahnya iman anak itu. Terkadang kita sering berburuk sangka pada Nya karena do'a kita yang tidak terkabulkan oleh Nya. Tapi yakinlah Tuhan mendengarkan do'a kita dan pasti akan mengabulkannya.
Contoh misalkan, ada anak berusia 5 (lima) tahun, tapi dia merengek-rengek minta diberikan uang Rp 100,000.00 untuk jajan di warung, apakah kita sebagai orang tua akan langsung mengabulkan permintaan anak itu?? Tentu tidak bukan. Karena uang Rp 100,000.00 untuk anak seusianya terlalu besar, dan terlalu banyak uang sejumlah itu bila hanya untuk jajan di warung. Begitu pula halnya dengan Allah, Tuhan yang Maha Segalanya. Dia pasti tahu apa yang terbaik bagi kita umat Nya, dan apa yang harus ditangguhkan dulu pemberiannya. Dan Insya Allah ada hikmah dibalik semua kejadian yang ada di dalam hidup ini (bila kita menyadarinya). Karena apa yang terlihat baik buat kita, belum tentu baik menurut Nya.
Terkadang memang terjadi sedikit kerancuan antara Do'a dan keinginan kita. Keinginan kita, yang kita manifestasikan dalam bentuk do'a kepada Tuhan... itu BELUM PASTI DIKABULKAN sesuai dengan keinginan kita tersebut. Karena apa? Karena Tuhan mempunyai cara sendiri tentang bagaimana Dia "menyikapi" do'a-do'a dari para manusia ini. Ada 3 (tiga) cara berbeda dalam mengabulkan do'a kita.
1. Do'a yang dikabulkan langsung
Ini adalah do'anya para Nabi dan Rasul. Setiap Nabi dan Rasul itu diberikan "fasilitas khusus" oleh Allah dengan segera mengabulkan do'a yang dimintakan kepada-Nya, karena Dia menilai para Nabi dan Rasul itu benar-benar mempunyai pikiran dan hati nurani yang suci dibandingkan dengan manusia biasa seperti kita ini. Oleh sebab itu setiap do'a Nabi maupun Rasul, pasti akan langsung dikabulkan-Nya persis sesuai dengan isi do'anya. Do'a seperti ini "bukan fasilitas buat kita", karena jika kita sebagai manusia biasa diberikan fasilitas khusus seperti ini...wah bisa sangat membahayakan seluruh umat manusia. Kita bisa "seenaknya saja" meminta sesuatu kepada Tuhan. Benar kan??
2. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi digantikan dengan yang lebih baik:
Inilah fasilitas do'a bagi kita manusia biasa. Ingatlah bahwa apa yang kelihatan baik buat kita, mungkin belum tentu baik menurut Nya. Allah jelas lebih tahu segala sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi kita. Oleh sebab itu, do'a yang kita panjatkan kepada Nya, kadangkala digantikan oleh-Nya dengan yang lebih baik bagi kita yang berdo'a. Misalnya, mungkin saja Anda berdo'a meminta rejeki materi yang banyak, ternyata do'a Anda itu digantikan-Nya dengan cara menyelamatkan "nyawa" Anda dari sebuah kecelakaan maut, sehingga Anda tetap segar bugar dan sehat sampai sekarang ini. Do'a Anda tetap dikabulkan, tetapi itu digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik untuk kehidupan Anda.
Ingatlah untuk selalu berpositif "thinking" pada Nya.
3. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi masih digantungkan:
Do'a yang seperti ini juga merupakan fasilitas bagi kita. Setiap permohonan kita kepada Nya lewat do'a pasti dikabulkan. Allah sudah memberikan hasil do'a kita. Dalam hal ini, hasil do'a kita tersebut tidak langsung diberikan ke kita, tetapi masih "digantungkan di atas" kita. Manusia yang berdo'a diberikan "tugas dan kewajiban" untuk meraih hasil do'anya yang masih tergantung tersebut. Dengan kalimat lain, jika Anda berdo'a memohon rezeki materi, makaDia sudah mengabulkan do'a Anda, tetapi Dia meletakkan hasil do'a itu (rezeki materi) "di atas" Anda, sehingga Anda harus punya daya upaya sekuat tenaga untuk mengambilnya. Anda harus berjuang untuk benar-benar meraih hasil do'a yang telah ada di atas Anda itu. Itulah tugas dan kewajiban Anda. Kalau Anda sudah mau menunaikan tugas dan kewajiban Anda ini, maka barulah Anda bisa benar-benar menikmati hasil do'a Anda itu di dalam kehidupan Anda.
Memang terkadang Allah mengabulkan do'a kita dengan cara yang tidak kita mengerti sebagai seorang makhluk yang lemah, tapi yakinlah bahwa Dia pasti mengabulkan do'a kita. Yang terpenting adalah selalu ingatlah Dia, jangan hanya mengingat Nya ketika kita memerlukan kehadiran Nya saja. Padahal Dia selalu ada di setiap hela nafas yang kita hirup setiap detiknya. Bersikaplah adil kepada Nya. Bila kita ingin diperhatikan Nya, maka "perhatikan" lah dia di setiap detik kehidupan yang telah diberikan Nya untuk kita. Jangan melupakan Nya walau sedetikpun.
Baca Selengkapnya...