Bila kita sedang duduk di bangku sekolah, ujian dilakukan agar kita naik kelas. Pada saat kuliah, ujian kita jalani agar kita bisa naik tingkat ke yang lebih tinggi. Sementara dalam hidup, ujian bisa jadi sarana penghapusan dosa kita dan peningkatan derajat kita di mata NYA.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS Al Ankabuut : 2)
Ujian terkadang datang bagaikan palu godam yang menghantam atau berupa beban berat yang menggayut di pundak. Kadang pula serasa menekan dan menyesakkan dada. Dunia terasa gelap dan sempit. Cahaya redup berpendar-pendar. Ya, terkadang kita merasa tidak kuat menahan ujian hidup ini. Beranggapan bahwa Allah (Tuhan) tidak adil terhadap kita, dan mulai berprasangka buruk terhadap Nya (astaghfirullah).
Padahal, ujian itu sebenarnya adalah bukti kasih sayang Nya kepada kita. Ujian terkadang ada yang terasa manis (misalnya ujian berupa harta benda/kekayaan), adakalanya juga terasa pahit (musibah/cobaan). Sama seperti halnya ujian saat kita sekolah/kuliah, adakalanya mudah untuk dilalui, adakalanya juga sulit untuk dilalui. Ujian juga merupakan "sentilan" kepada kita, bila kita telah "menyimpang" dari jalan yang telah diajarkan Nya.
Sahabat, menolehlah ke sekitar. Lihatlah, ada jiwa lain yang juga diuji olehNya. Dan ia tegar. Padahal, sepertinya ujiannya begitu berat. Melihat ke ujian diri sendiri ternyata bagai debu saja. Tuhan pasti tahu apa yang terbaik buat umat Nya. DiberiNya cobaan, diberiNya pula kekuatan untuk menghadapi Nya. Semua sesuai kapasitas. Menolehlah Sahabat.
Setiap jiwa mendapat soal ujian. Dan setiap jiwa telah disediakan jawaban. Hanya, sudahkah kita menggali dan mencari jawaban-jawaban dariNya???
Sekolah, bukanlah sekolah jika tanpa ujian. Begitu pula hidup, hidup adalah sebuah sekolah abadi. Dan ujian adalah sebuah pengharapan. Terhapusnya dosa atau naiknya derajat di mataNya.
Wallahu alam bissawab, semoga bermanfaat....
Baca Selengkapnya...
10 September 2009
UJIAN
03 September 2009
Menari Di Tengah Hujan
Pagi itu di suatu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an tahun datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Seorang suster menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Sang suster pun merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang, dia sempatkan untuk memeriksa luka sang pria, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, sang suster pun memutuskan untuk melakukannya sendiri..
Sambil menangani luka sang pria, dia bertanya apakah punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu ketika ditanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Sang suster pun sangat terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana se tiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Lelaki tua itu tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, ‘kan?”
Sang suster pun terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangannya masih tetap merinding, “Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hdupku” gumamnya dalam hati.
Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Bagi saya, moral penting dari cerita ini adalah: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. “Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”
Selamat bertemu kembali teman-teman semua, maafkanlah diriku yang telah lama melalaikan "blog" ku tercinta ini. Semua itu diluar kuasaku. Semoga kalian semua merindukanku ...... :-D
16 Juli 2009
Haruskah Hati Menciptakan Jarak??
Hati adalah cermin, cermin bagi diri kita. Ketika satu kesalahan kita biarkan, kemudian dosa dan kesalahan kedua kita lupakan dengan alasan "nanti aja lah minta maafnya, nanti aja lah tobatnya", kemudian satu titik itu menjadi menggumpal, berkarat dan menghitam. Jangankan untuk bercermin, mungkin untuk membedakan mana diri kita yang sebenarnya dan mana yang kotoran saja sudah tidak bisa lagi. Artinya jiwa kita sudah tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah dan pada saat itulah segala nasehat mungkin sudah tak lagi masuk ke hati kita, karena hati kita sudah kotor, tertutup oleh dosa dosa yang berbuah kesombongan untuk mendengar nasehat.
Sementara hati yang jernih akan jelas terlihat dari pembawaan raga kita, karena hati adalah cerminan jiwa yang terlihat kasat mata secara raga. Sehingga semua orang yang berada disekitar kita akan dapat bercermin juga karena beningnya hati kita ketika menolong dan bergaul dengan sesama makhluk ciptaan Nya.
Ketika hati kita keruh yang terlihat pasti adalah wajah yang kusam karena tidak bisa senyum tertindih oleh gundah gulana yang menjadi akibat dari penyakit hati itu sendiri, yang terlihat kemudian adalah salah arah, salah mengambil keputusan karena hati tidak tenang ketika melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan atau tindakan. Bahkan yang timbul mungkin hanya luapan emosi dan kemarahan.
Untuk lebih memahaminya, bisa di lihat dari percakapan antara seorang guru dan murid di bawah ini:
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu merekaterpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanyabisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambilmemperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."
Nah, sekarang saya kembalikan kepada diri teman masing-masing, apakah hati kita sudah bersih dari segala rasa iri, dengki, dendam, amarah dll?? Ataukah hati kita masih kotor? Karena semakin kotor hati kita, maka "jarak" kita akan semakin jauh dengan sahabat, kerabat dan handai taulan kita.
Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya...
19 Juni 2009
Save The Best for Last
Kali ini, saya akan mengajak sahabat bloggers semua untuk sedikit berimajinasi dengan membayangkan apa yang akan kita lakukan pada "sepiring nasi" yang akan kita santap pada saat makan nanti:
Di atas piring nasi ada jatah makan anda (entah itu makan siang/makan malam); sejumput nasi, sayur bayam, sepotong tempe, sekerat daging rendang dan beberapa keping kerupuk udang. Kira-kira, jenis makanan apa yang paling akhir anda nikmati? Mungkin di antara menu makan siang itu, ada makanan yang anda tidak suka, dan oleh sebab itu, tidak anda santap sama sekali. Tapi yang hampir pasti terjadi, jenis makanan yang paling enak menurut anda adalah makanan yang paling akhir anda santap. Sesuap demi sesuap, semua jenis makanan itu mulai anda santap. Sampai akhirnya, yang terakhir anda habiskan adalah potongan terakhir dari jenis makanan yang paling anda sukai. Entah itu daging, tempe, sayur bayam atau kerupuk udang. Hmmmm betapa nikmatnya menikmati suapan terakhir. Dan kenikmatan itu hilang bila makanan yang anda sisakan tidak berhasil anda nikmati kelezatannya akibat terjatuh atau diambil orang lain—anak atau istri anda.
Pengalaman makan seperti di atas sangat paralel dengan perilaku orang-orang sukses. Mereka mentransfer perilaku makan mereka ke dalam skala yang lebih besar. Bukan hanya sekedar pengalaman makan, tetapi pada kehidupan secara keseluruhan. Mereka sering merelakan diri untuk menikmati pekerjaan yang berat, menyisakan sebagian besar penghasilan untuk masa depan, bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan serta menelusuri perjalanan yang menanjak dan penuh onak. Hanya dengan satu tujuan; suatu saat mereka bisa menikmati hasil kerja keras mereka. Yaitu suatu kenikmatan atau rasa bangga dan bahagia atas apa yang telah berhasil di raihnya. Prinsipnya adalah:
Save the best for less—Menyisakan yang terbaik untuk dinikmati paling akhir
Sementara itu, orang gagal berperilaku sebaliknya. Mereka menikmati kesenangan di awal karirnya, sehingga di sisa umurnya mereka dipaksa oleh kehidupan untuk menikmati kegetiran. Berapapun besarnya gaji, dalam pikirannya hanya ada kata "habiskan!". Kalau ada waktu luang, "hamburkan! atau sia-siakan!".
Karirnya yang cenderung stagnan, dilampaui oleh orang-orang yang lebih muda, uang pensiun yang rendah serta himpitan kebutuhan hidup yang semakin mencekik adalah sebagian akibat yang harus dihadapi oleh orang-orang yang memilih menikmati kehidupan lebih dini atau terlena dan terbuai kenikmatan di awal perjalanan.
Karunia terbesar dari Allah untuk manusia adalah kemampuannya untuk menentukan pilihan. Saat ini anda boleh memilih; mau jadi orang sukses atau orang gagal! Anda sendirilah yang harus memilih satu di antaranya, karena andalah yang akan menjalani hidup dan akan menikmati hasilnya kelak.
Wallaahu A’lam
Baca Selengkapnya...
12 Juni 2009
Indahnya Dikelilingi Sahabat & Dikelilingi Do'a
Pagi ini, cuaca cerah sekali. Sejak bangun tidur tadi pagi, yang diiringi suara kokok ayam jantan, kicau burung, alunan suara adzan dari masjid dekat rumah dan juga siaran berita di TV (seputar Manohara, penyiksaan TKI, kampanye Capres dan Cawapres, dan berita-berita lainnya yang terkadang bosan juga dengerinnya) plus sinar mentari yang menyinari alam raya dan menebarkan sinar kehangatanya, lengkap sudah rasa damai dan bahagia dalam jiwa ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah kau masih memberikan padaku nikmat kehidupan sampai dengan detik ini, sehingga aku masih bisa mensyukuri apa yang telah Engkau berikan padaku. Walaupun seminggu terakhir ini begitu banyak kegiatan dan pekerjaan yang cukup menyita waktuku dan melelahkanku (maaf teman-teman klo beberapa hari terakhir ini diriku jadi jarang On Line dan blog walking ke tempat teman-teman semua), tapi aku tetap mensyukuri dan menikmatinya sebagai bagian dari rasa syukurku kepada MU. Untuk apa mengeluh, karena mengeluh juga tidak akan membuat segala sesuatunya berjalan dengan lebih baik.
Hari ini saya mendapatkan ”hadiah spesial” dari teman yang mengingatkanku bagaimana menyikapi ritme kehidupan. Yaitu sebuah email yang isinya ”sangat dalam artinya” bagiku. Sebuah email yang menceritakan kisah kehidupan sebuah keluarga sederhana yang selalu dikelilingi do’a dalam kehidupannya dan bagaimana mereka memaknai hidup ini.
”Hidup ini terasa lebih indah jika kita bisa saling mengingatkan serta saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Lebih indah lagi, jika kita bisa melengkapinya dengan saling mendo’akan.”
Keindahan hidup seperti itulah yang masih bisa kita rasakan selagi kita masih memiliki sahabat maupun saudara. Sahabat dan saudara yang tak segan-segan berdo’a di hadapan kita atau mengirimkan do’anya tanpa sepengetahuan kita, hanya karena mereka ”menyayangi” kita.
Love U All sahabatku....
Inilah kisahnya...
===========================
Harus saya syukuri, betapa diri ini menyadari bahwa dalam perjalanan panjang hidup ini, teramat banyak orang-orang yang tulus berdoa untuk kebaikan, keselamatan, juga keberkahan saya dan keluarga. Misalnya beberapa tahun lalu ketika kami masih menyewa sebuah rumah petak di Bogor dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, mulai dari ibu, adik, kakak, dan sahabat yang pernah singgah berucap kalimat yang sama, “semoga cepat punya rumah yang layak ya…”
Ketika itu, saya tidak pernah malu untuk mengajak dan menawarkan siapapun untuk singgah ke rumah ‘kontrakan’ saya. Hanya karena rumah kami kurang layak, bukan berarti menghalangi niat baik untuk menyambung silaturahmi. Meski saya tidak meminta, mereka tetap mendoakan untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga saya. Dan mungkin atas doa mereka jugalah, kini saya dan keluarga sudah bisa menikmati tinggal di rumah sendiri.
Cerita lain ketika saya sering mengajak isteri dan anak-anak jalan-jalan. Suatu hari kami bertemu dengan seorang sahabat di sebuah angkutan umum dan dia bertanya, “ biasanya pakai motor, motornya kemana?”. Obrolan pun berlanjut ke hal lain, karena ia sudah mendapatkan jawaban dari saya soal motor tersebut. Menjelang berpisah, tak lupa ia menitipkan satu kalimat yang saya anggap itu sebagai doa, “mudah-mudahan cepat ada gantinya ya”.
Segera saya mengamini kalimat sahabat saya itu. Puji syukur kepada Nya bahwa kemudian saya diberikan kesempatan untuk memiliki sepeda motor, walau harus mencicilnya terlebih dahulu selama tiga tahun. Setidaknya saya semakin sadar, bahwa saya harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan NYA. Boleh jadi juga, doa sahabat-sahabat lah yang Allah kabulkan sehingga saya kembali mengantar anak-anak ke sekolah atau mengunjungi orang tua dengan bersepeda motor.
Nah, giliran sudah punya motor, sudah punya rumah, alhamdulillah tetap saja ada yang masih mendoakan kami. Tentu saja dengan cara-cara yang berbeda. Misalnya saja, seorang sahabat yang singgah di rumah saya di Sawangan belum lama ini, berkomentar “Kapan dikasih pagar nih rumahnya?” atau ketika puteri ketiga saya lahir, “Wah, puterinya sudah bertambah, berarti mesti bikin kamar lagi nih di lantai atas…”
Saya selalu menilai positif kalimat-kalimat penuh makna persahabatan itu dan menganggapnya sebagai doa. Begitu juga ketika para tetangga melihat motor kesayangan kami ditumpangi lima orang yaitu saya, isteri, dan tiga puteri saya, mereka berujar, “Sudah harus ganti roda empat tuh…”
Di jalan raya pun demikian. Setiap kami menunggangi motor berlima dan berhenti di lampu lalu lintas, entah itu perjalanan ke Bogor maupun ke Tangerang selalu ada orang yang menyapa, “Masya Allah pak… hati-hati ya bawa motornya. Mudah-mudahan cepat punya mobil ya…”, ini masih lebih enak terdengar. Ada juga yang begini, “Ya Allah, kurang banyak pak bawaannya…”
Saya sempatkan untuk tersenyum kepada mereka, dan berujar, “amiin, terima kasih doanya ya. Alhamdulillah saya masih punya motor, sementara saya nikmati saja dulu…”. Tak sedikipun saya tersinggung dengan segala ucapan mereka di jalan raya, toh sebaliknya saya pikir itu adalah sebuah do'a dan saya berterima kasih. “tinggal mengamini saja kok repot…”
Sekali lagi, saya benar-benar menyadari dan yakin bahwa satu dari sekian banyak rasa anugerah yang wajib kita syukuri adalah lantaran hidup kita ini dikelilingi oleh do'a. Do'a orang tua, keluarga, para sahabat bahkan orang-orang yang tidak kita kenal secara langsung. Lantas, kenapa masih murung dan berputus asa? (gaw)
=========================
Pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah di atas adalah:
1. Selalu ber- positive thinking kepada NYA, karena DIA lah yang maha tahu atas segala sesuatu yang terjadi pada kita. Entah itu ujian berupa kebahagiaan/kenikmatan, maupun ujian dalam bentuk musibah.
2. Jalani hidup ini dengan ikhlas, jangan mudah berputus asa. Masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengubah segala sesuatunya menjadi lebih baik. Karena Tuhan juga tidak akan menguji umat NYA diluar kemampuan umat NYA.
3. Perbanyaklah silaturahmi dan galanglah persaudaraan/persahabatan. Semakin banyak sahabat (teman dalam suka dan duka), maka Insya Allah akan semakin banyak yang “berdo’a” buat kita. Intinya, saling mendo’akan antar teman/keluarga, baik tanpa sepengetahuan ataupun sepengetahuan yang kita do’akan.
Jikalau hidup kita dikelilingi do’a dari orang-orang yang mencintai kita, hmmmmm…. siapa sih yang ngga mau??
Baca Selengkapnya...
08 Juni 2009
Semailah Kebaikan Setiap Waktu, Selagi Bisa
Waktu itu sebenarnya ibarat ladang amal bagi kita yang menyadari arti penting dari waktu yang telah diberikan Nya kepada kita. Bagi yang muslim, Allah SWT telah menyediakannya agar kita menggunakannya sebagai modal penting menggapai ridha dan surga-Nya. Karena keutamaan seseorang di sisi Allah adalah selain ditentukan oleh keimanan dan amal shalihnya, juga ditentukan oleh faktor keterdahuluannya dalam mewujudkan rasa keimanan dan mengerjakan amal shalihnya. Misalnya tidaklah sama antara jamaah yang berada di shaf awal dalam shalat dengan yang berada di barisan paling belakang, dan seterusnya.
Demikian juga bagi yang non muslim, pasti Tuhan telah mengkaruniakan waktu kepada umat Nya untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dipergunakan untuk banyak beribadah kepada Nya, beramal di jalan Nya, dan berbagai kegiatan rohani yang lain diluar segala aktifitas duniawi yang juga kita lakukan.
Saudaraku…
Segala hal yang ada dalam kehidupan orang yang beriman bisa menjadi ladang amal kebaikan. Kita membuang sampah pada tempatnya itu amal baik. Berniat tidak bohong itu amal mulia. Mengucapkan salam kepada kawan itu amal yang terpuji. Mendo’akan teman/saudara kendati mereka tidak mengetahuinya, itu juga amal shaleh. Dan masih banyak lagi amal shaleh, amal kebajikan yang bisa kita lakukan, sekalipun kita tak memiliki sesuatu apapun (harta). Tuhan dengan segala keadilan-Nya memberikan peluang amal kepada masing-masing hamba-Nya. Baik orang miskin maupun kaya, masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kebajikan dan mendapatkan ridha Nya. Lebih dari itu, suatu amal tidak dilihat dari kuantitasnya, tapi dilihat dari motivasi dan niatnya. Kualitas amal seseorang tergantung kepada motivasi dan niatnya. Boleh jadi infak seorang buruh sebesar 1000 rupiah, itu dimata Nya sama nilainya dengan infak seorang direktur sejumlah Rp. 1.000.000.000,00. Seorang murid barangkali lebih mulia dibandingkan dengan seorang gurunya, karena si murid lebih sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sementara sang guru merasa cukup dengan ilmunya.
Selanjutnya, mengapa kita mesti menyegerakan dalam beramal?
1. Karena asset waktu yang kita miliki hanyalah saat ini.
Apa yang terjadi nanti dan esok hari kita tidak tahu. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Kebaikan dan keburukan yang kita kerjakan kemarin tidak bisa kita ulang lagi. Ia menjadi kenangan saat ini. Jika kebaikan, bersyukurlah kita, dan jika keburukan menyesallah bersama orang-orang yang menyesal. Masih beruntung jika kita bersyukur hari ini, bukan saat di mana penyesalan tidak ada artinya lagi. Esok hari juga belum tentu menjadi milik kita, kita tidak tahu apakah esok hari masih bisa menghirup udara pagi?
2. Karena kemuliaan derajat seseorang di sisi Nya adalah disebabkan oleh kesungguhannya dalam merespon seruan kebajikan dan mengamalkannya.
Orang tua akan senang jika menyuruh anaknya mengerjakan sesuatu dan perintahnya tersebut segera dikerjakan oleh anaknya. Sebaliknya ia akan marah jika si anak menunda-nunda mengerjakannya. Bila orang tua kita marah jika kita menunda-nunda pekerjaan yang telah diperintahkan kepada kita untuk segera dikerjakan adalah sangat wajar dan lumrah bila Allah juga akan “marah” pada kita bila kita melanggar perintah Nya bukan??
3. Karena setiap waktu ada momentnya sendiri.
Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak sekali amal perbuatan yang sangat terkait dengan waktu. Misalnya ketika waktunya berakhir, berakhir pula kesempatan untuk mengerjakannya. Seperti shalat, puasa, haji, berkurban, dan lain sebagainya.
4. Kesempatan beramal juga diberikan kepada seseorang pada waktu-waktu tertentu dan sesuai porsinya.
Orang kaya diberi kesempatan beramal dengan kekayaannya. Orang berilmu diberi kesempatan beramal dengan ilmunya. Seorang pimpinan diberi kesempatan beramal dengan kekuasannya. Jangan sampai pada saat Tuhan mencabut segala kesempatan yang telah diberikan Nya itu, kita baru menyadari bahwa kita sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Kesehatan, waktu luang, hidup, masa muda, dan kekayaan adalah kesempatan untuk beramal. Gunakan sebaik-baiknya masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehat mu sebelum datang masa sakitmu, dan waktu luangmu sebelum datang waktu sempitmu.
Saudaraku…
Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Saat inilah waktumu. Segeralah beramal sesuai dengan tuntutan waktunya. Kejarlah kebajikan sampai ke liang lahat, sampai ajal/maut menjemput kita.
Semoga bermanfaat…
Baca Selengkapnya...
05 Juni 2009
Berbuat Kebaikan Tidak Ada Ruginya
"jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendir” (Al-Isra’:7)Setiap orang akan menuai apa yang ditanam
Tidak semua orang mampu berpikir panjang. Apalagi dengan perhitungan yang teliti. Itulah kenapa tidak sedikit yang melakukan sesuatu cuma buat keuntungan sesaat.
“Yang penting saya untung, peduli amat orang lain!”
Padahal, alam mengajarkan bahwa aksi sama dengan reaksi. Apa yang diterima alam, itulah yang akan diberikan ke manusia. Ada banjir karena keseimbangan alam terganggu: penebangan hutan, buang sampah ke sungai, dan lain-lain. Begitu pun dalam pergaulan sesama manusia. Kita akan menerima apa yang telah kita berikan. Jika kebaikan yang kita berikan, balasannya pun tak jauh dari kebaikan. Bahkan, mungkin lebih. Kita lihat tingkah para pedagang, baik barang maupun jasa, paham sekali rumus ini. Kalau mereka ingin mendapat kebaikan dari konsumen, pancingannya pun dengan sesuatu yang baik. Ada pedagang yang menyediakan air minum kemasan gratis, keramahan para pelayan, bahkan ruangan khusus untuk menunggu. Mereka menganggap: konsumen adalah raja.
Jika kita tidak ingin keburukan, begitu pun orang lain
Semua orang ingin mendapatkan yang baik. Begitu pun sebaliknya. Tak ada yang ingin mendapatkan yang buruk. Cuma masalahnya, sikap itu tidak diiringi dengan aksi yang positif. Ketika menginginkan selalu ingin mendapatkan yang baik, tapi saat memberi selalu/sering yang buruk. Ayo, bener ngga sih??
Sebenarnya, ketika seorang melakukan sesuatu yang buruk, saat itu juga ia sedang berharap ada keburukan yang akan ia terima, baik itu disadari ataupun tidak. Sayangnya, jarang yang mau bercermin diri: apa yang telah saya lakukan? Lebih banyak mana: baik atau buruk? Baru kemudian, kenapa orang lain berbuat buruk pada saya?
Padalah Agama telah mengajarkan untuk membalas keburukan dengan cara yang terbaik.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
Ini memang berat. Ajaran ini lebih tinggi dari sekadar kebaikan berbalas kebaikan, dan keburukan berbalas hal serupa. Lebih dari itu, memberikan reaksi dari sebuah keburukan dengan sudut pandang positif. Dan hasilnya sangat luar biasa. Keburukan bukan hanya hilang, tapi berganti dengan kebaikan.
Berpikirlah apa yang bisa diberikan, bukan yang diterima
Semangat berbuat baik memang tidak akan tumbuh dari mereka yang punya sikap pasif. Ketika yang dipikirkan seseorang cuma bagaimana menerima, darimana datangnya penerimaan; seluruh otot aktivitasnya menjadi mandul. Semangat berbuat baiknya sudah mati sebelum fisiknya benar-benar mati. Tentunya, sulit mendapatkan sesuatu yang positif dari orang tipe ini. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, mengawali kebaikan pun terasa berat. Semua aktivitasnya terkungkung dalam kalkulator sempit. Hitungannya selalu pada keuntungan materi sesaat. Bukan sesuatu yang lebih mahal dari sekadar materi. Antara lain, ketenangan, keharmonisan, cinta dan persaudaraan.
Tokoh Anwar Ibrahim mungkin salah satu contoh baik. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia ini pernah difitnah secara keji. Tidak tanggung-tanggung, ia dituduh pelaku korupsi dan kejahatan homoseksual. Namun, seluruh warga tempat tinggalnya siap menjadi saksi: bahwa Anwar mustahil seperti yang dituduhkan. Itulah buah baik yang selama ini telah ditanam Anwar. Masyarakat sekitarnya, tanpa diminta pun, siap menjadi pembela.
Dari uraian di atas kita jadi tahu bahwa pada prinsipnya tidak ada ruginya kok berbuat baik kepada oranglain, bahkan kepada orang yang telah berbuat ”jahat” kepada kita. Capek klo tiap kali ada yang berbuat jahat pada kita, kita sibuk memikirkan untuk balas dendam atas kejahatan yang telah dilakukannya, dst...dst.. saling membalas dendam yang tidak ada akhirnya, itulah yang akan terjadi. Dan sepertinya hal seperti itu gampang sekali kita temukan saat ini.
Ingatlah bahwa Tuhan itu Maha Tahu, Maha Adil dan Tidak Tidur. Kebaikan kita sekecil apapun pasti akan dilihat Nya, dan akan bernilai pahala dimata Nya (asal dilakukan dengan ikhlas). So... .. tunggu apa lagi....berbuat baik yukkkk...
Baca Selengkapnya...
02 Juni 2009
Jadilah Diri Anda Sendiri
Sahabatku, sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.
Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang remeh. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.
Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda “berbeda”.
Jujurlah dan katakan pada mereka, "Maaf, ini bukan bidang saya". Saya kurang ahli pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Tapi saya punya keahlian di bidang yang lain. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak. Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya.
Wahai sahabatku,
Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. (QS. 3: 188).
Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.
Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Nya (”beribadah” disini artinya adalah melakukan suatu perbuatan hanya karena ingin mendapatkan ridho dan pahala dari Nya semata); kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan (Dr. Aidh Al Qarni). Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.
Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Nya semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya, karena menurutnya: Kebanyakan manusia tiada mengetahui. Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dan jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri (QS. 8: 47).
Wahai sahabat, Hiduplah dengan menjadi diri Anda sendiri walaupun terkadang itu tidak mudah melakukannya.
Semoga bermanfaat
Baca Selengkapnya...
30 Mei 2009
Tidak Ada Yang Sia-Sia
Terima kasih kepada seorang sahabat yang telah menyadarkanku bahwa tidak ada yang sia-sia, apa yang terjadi ataupun diciptakan di muka bumi ini. Semua pasti ada tujuan dan maksudnya, mengapa itu terjadi, dan mengapa itu diciptakan. Jadi optimislah dalam hidup ini.
Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja kita pernah atau bahkan sering mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan (bagi diri kita dan menurut pandangan kita), maka keburukan itu hanya karena kita melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila kita berani menengok ke sisi yang lain, maka kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Dan yang terpenting adalah janganlah pernah ber-negative thinking (berprasangka buruk) tentang apa yang telah diberikan Nya kepada kita untuk kita jalani. Karena ingat, Dia lah yang Maha Tahu, Maha Segalanya. Selalu berprasangka baik (positive thinking), dan yakinlah pasti ada hikmah di balik semua nya.
Sikap optimis dalam menghadapi kehidupan tidak harus ditunjukkan dengan wajah yang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang selalu ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Orang yang optimis, akan memandang hidup jauh ke depan, dengan penuh impian dan mempunyai tujuan. Tujuan dalam kehidupan harus kita miliki, agar kita sebagai nakhoda bagi kehidupan kita sendiri tau bagaimana mengarahkan kemudi kehidupan kita dan ingin dibawa kearah mana. Individu - individu yang optimis lah yang benar - benar sangat menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan ini ibarat PERMAINAN CATUR, "the game of life is lot like ches ... you have to tackle your problem, blok your fears, and score your points when you get the opportunity ", == hidup bagaikan permainan catur ... hadapi masalah, taklukan rasa takut dan menang ketika kesempatan itu datang...
Saya pribadi setuju dengan falsafah ini, dan juga sangat meyakini bahwa kesempatan itu tidak bisa hanya ditunggu sampai kesempatan itu datang. Serta sangat tebal juga keyakinan saya bahwa Yang Maha Kuasa itu sesungguhnya telah menganugerahi kita talenta agar bisa memberdayakan segala kemampuan kita secara maksimal dan optimum untuk menciptakan berbagai kesempatan dan peluang, jangan bertopang dagu menunggu hingga kesempatan itu datang tiba - tiba kehadapan kita.
Sedangkan pesimistis adalah suatu bentuk kebodohan karena kita tidak menyusun suatu rencana untuk suatu tujuan yang akan kita capai, tapi kita sudah menyerah sebelum berperang. Padahal Allah berfirman "Aku tidak merubah nasib hambaKu, jika dia sendiri tidak berusaha mengubahnya," dan "Aku sesuai prasangka Hamba-Ku".
Jadi apakah kita mau selalu bersikap pesimis, dan beranggapan bahwa apa yang akan kita lakukan hanyalah sia-sia belaka?
Renungan:
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu bahwa mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut.
Semoga bermanfaat
Baca Selengkapnya...
27 Mei 2009
Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah
Maaf, ini bukan promosi nama salah satu program realiti show yang ada di salah satu TV swasta yang ada, tapi hanya berusaha sharing sebuah cerita yang saya dapat dari email seorang teman.
Alkisah, di salah satu sudut kota Pontianak, ada seorang wanita yang bernama Memei. Entah siapa nama lengkapnya, namun hanya dengan kata itu ia biasa disapa. Tempat tinggalnya di seberang kota Pontianak, dipisahkan sebuah jembatan yang membelah Sungai Kapuas. Dengan menggunakan sampan, dilanjutkan berjalan kaki, Memei suka berkunjung ke rumah-rumah. Kedatangannya kadang disambut dengan gembira oleh seluruh penghuninya, tak jarang pula sebaliknya.
Memei bukan orang terkenal, bukan pula artis, apalagi seorang calon bintang jebolan AFI, Indonesian Idol bahkan KDI. Jelaslah bukan. Tubuhnya kecil mungil, dibalut kulit yang hitam legam karena selalu mandi sinar mentari. Namun kecantikan di masa mudanya masih tersisa. Hidung mancung, juga senyum dan gaya tertawa membuat orang lain suka melihatnya, padahal tak satu jua giginya yang tampak ada. Ia memang orang biasa, bahkan mungkin teramat biasa. Seorang nenek yang mempunyai beberapa cucu dari anak-anaknya, hidup dengan sangat sederhana. Ke-empat anaknya pun hanyalah rakyat jelata, yang setiap hari harus mengadu nasib agar tak tergusur oleh kerasnya kehidupan. Sebagai seorang yang mulai renta, mestinya Memei bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Duduk di sebuah kursi goyang kayu untuk menghabiskan waktu, atau bermain dengan cucu-cucu. Namun usia tua tak menghalanginya untuk selalu ke luar rumah, mengetuk pintu-pintu, menawarkan jasanya. Ya...Memei hanyalah seorang pemijat. Berbekalkan lotion atau minyak urut, ia berkeliling ke setiap rumah. Di usia yang semakin senja, dan kemiskinan yang mengguratnya, ia tak mau hanya sekedar meminta-minta. Padahal siapa saja yang melihatnya pasti jatuh kasihan. Dengan keahliannya memijat, ada saja orang yang memerlukan jasanya, namun sering pula ia pulang dengan tangan hampa. Memei pun tak malu kalau diminta mengepel lantai rumah, dan selalu dilakukannya dengan tangan. Disapunya kain lap di setiap permukaan lantai, dikoreknya setiap lubang yang ada sampah, lalu tangannya meliuk-liuk bagaikan membelai dan mengurut tubuh-tubuh yang lelah. Tak jarang pula ia diminta menunggui rumah karena seluruh penghuninya harus pergi bekerja. Untuk setiap jasanya, Memei tak pernah meminta uang lebih sebagai upah, cukup sekedarnya saja. Kini Memei mungkin masih mengitari setiap rumah, menyusuri sebagian jalan di kota Pontianak. Turut menghirup asap knalpot dan debu jalanan yang pekat, serta bermandikan sengatan terik mentari Khatulistiwa.
Memei adalah seorang pemijat, bahkan tua, bisu dan tuli. Tapi ingatlah, Allah tak akan pernah menciptakan setiap makhluk dengan sia-sia. Dari setiap ciptaan, pasti begitu banyak hikmah yang mengalun indah. Mengajarkan kepada setiap hamba-Nya, untuk selalu memetik pelajaran dari apa yang tercipta di dunia. Memei telah mengajarkan bahwa cinta dan kasih sayang adalah kerja yang penuh berkah. Baginya, usia tua dan kemiskinan bukanlah alasan untuk sekedar menengadahkan tangan sambil meminta sedekah. Kehidupan baginya adalah mempunyai makna bekerja, bukan dengan bermanja-manja. Sikapnya yang amanah, pun mestinya bisa jadi cermin bagi siapa saja. Begitu malunya kita yang masih muda (lebih muda dari Memei) bila hanya berpangku tangan atau mungkin hanya menengadahkan tangan meminta bantuan yang lain, tanpa adanya satu keringatpun yang keluar dari diri kita.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari seorang sosok wanita yang bernama Memei ini. Di segala keterbatasan dan kekurangannya, begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Kita yang masih muda, seharusnya meniru sosok perjuangan Memei yang tak kenal lelah dan tak mudah putus asa atas segala kekurangan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Semangatlah dalam mengarungi hidup ini.
Baca Selengkapnya...
24 Mei 2009
Tuhan Menjawab Do'a Dengan Caranya
"Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-Nya (Glenn Clark)"
Pada suatu hari, ada seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Sang keponakan biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ternyata salah satu kelerengnya hilang.
Tiba-tiba anak itu berkata: "Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?".
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran. Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan (dengan demikian melemahkan imannya, ...) dengan khawatir bertanya:
"Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?".
"Tidak Bi", jawab anak itu, "tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi".
Alangkah indahnya iman anak itu. Terkadang kita sering berburuk sangka pada Nya karena do'a kita yang tidak terkabulkan oleh Nya. Tapi yakinlah Tuhan mendengarkan do'a kita dan pasti akan mengabulkannya.
Contoh misalkan, ada anak berusia 5 (lima) tahun, tapi dia merengek-rengek minta diberikan uang Rp 100,000.00 untuk jajan di warung, apakah kita sebagai orang tua akan langsung mengabulkan permintaan anak itu?? Tentu tidak bukan. Karena uang Rp 100,000.00 untuk anak seusianya terlalu besar, dan terlalu banyak uang sejumlah itu bila hanya untuk jajan di warung. Begitu pula halnya dengan Allah, Tuhan yang Maha Segalanya. Dia pasti tahu apa yang terbaik bagi kita umat Nya, dan apa yang harus ditangguhkan dulu pemberiannya. Dan Insya Allah ada hikmah dibalik semua kejadian yang ada di dalam hidup ini (bila kita menyadarinya). Karena apa yang terlihat baik buat kita, belum tentu baik menurut Nya.
Terkadang memang terjadi sedikit kerancuan antara Do'a dan keinginan kita. Keinginan kita, yang kita manifestasikan dalam bentuk do'a kepada Tuhan... itu BELUM PASTI DIKABULKAN sesuai dengan keinginan kita tersebut. Karena apa? Karena Tuhan mempunyai cara sendiri tentang bagaimana Dia "menyikapi" do'a-do'a dari para manusia ini. Ada 3 (tiga) cara berbeda dalam mengabulkan do'a kita.
1. Do'a yang dikabulkan langsung
Ini adalah do'anya para Nabi dan Rasul. Setiap Nabi dan Rasul itu diberikan "fasilitas khusus" oleh Allah dengan segera mengabulkan do'a yang dimintakan kepada-Nya, karena Dia menilai para Nabi dan Rasul itu benar-benar mempunyai pikiran dan hati nurani yang suci dibandingkan dengan manusia biasa seperti kita ini. Oleh sebab itu setiap do'a Nabi maupun Rasul, pasti akan langsung dikabulkan-Nya persis sesuai dengan isi do'anya. Do'a seperti ini "bukan fasilitas buat kita", karena jika kita sebagai manusia biasa diberikan fasilitas khusus seperti ini...wah bisa sangat membahayakan seluruh umat manusia. Kita bisa "seenaknya saja" meminta sesuatu kepada Tuhan. Benar kan??
2. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi digantikan dengan yang lebih baik:
Inilah fasilitas do'a bagi kita manusia biasa. Ingatlah bahwa apa yang kelihatan baik buat kita, mungkin belum tentu baik menurut Nya. Allah jelas lebih tahu segala sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi kita. Oleh sebab itu, do'a yang kita panjatkan kepada Nya, kadangkala digantikan oleh-Nya dengan yang lebih baik bagi kita yang berdo'a. Misalnya, mungkin saja Anda berdo'a meminta rejeki materi yang banyak, ternyata do'a Anda itu digantikan-Nya dengan cara menyelamatkan "nyawa" Anda dari sebuah kecelakaan maut, sehingga Anda tetap segar bugar dan sehat sampai sekarang ini. Do'a Anda tetap dikabulkan, tetapi itu digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik untuk kehidupan Anda.
Ingatlah untuk selalu berpositif "thinking" pada Nya.
3. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi masih digantungkan:
Do'a yang seperti ini juga merupakan fasilitas bagi kita. Setiap permohonan kita kepada Nya lewat do'a pasti dikabulkan. Allah sudah memberikan hasil do'a kita. Dalam hal ini, hasil do'a kita tersebut tidak langsung diberikan ke kita, tetapi masih "digantungkan di atas" kita. Manusia yang berdo'a diberikan "tugas dan kewajiban" untuk meraih hasil do'anya yang masih tergantung tersebut. Dengan kalimat lain, jika Anda berdo'a memohon rezeki materi, makaDia sudah mengabulkan do'a Anda, tetapi Dia meletakkan hasil do'a itu (rezeki materi) "di atas" Anda, sehingga Anda harus punya daya upaya sekuat tenaga untuk mengambilnya. Anda harus berjuang untuk benar-benar meraih hasil do'a yang telah ada di atas Anda itu. Itulah tugas dan kewajiban Anda. Kalau Anda sudah mau menunaikan tugas dan kewajiban Anda ini, maka barulah Anda bisa benar-benar menikmati hasil do'a Anda itu di dalam kehidupan Anda.
Memang terkadang Allah mengabulkan do'a kita dengan cara yang tidak kita mengerti sebagai seorang makhluk yang lemah, tapi yakinlah bahwa Dia pasti mengabulkan do'a kita. Yang terpenting adalah selalu ingatlah Dia, jangan hanya mengingat Nya ketika kita memerlukan kehadiran Nya saja. Padahal Dia selalu ada di setiap hela nafas yang kita hirup setiap detiknya. Bersikaplah adil kepada Nya. Bila kita ingin diperhatikan Nya, maka "perhatikan" lah dia di setiap detik kehidupan yang telah diberikan Nya untuk kita. Jangan melupakan Nya walau sedetikpun.
Baca Selengkapnya...
22 Mei 2009
Nasehat Untuk Diri Sendiri
Dalam hidup ini terkadang ada hal-hal yang tidak kita duga bisa terjadi. Persoalan seolah seperti gelombang yang datang silih berganti tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk sekedar bernafas, mengambil jeda satu persoalan ke persoalan yang lain. Penting untuk dijadikan pegangan bahwa jangan pernah berfikir bahwa hidup adalah untuk bersenang-senang, fikirkanlah hidup ini adalah untuk berjuang karena sesungguhnya hidup ini adalah lahan untuk perjuangan. Kalau kita membayangkan hidup ini untuk bersenang-senang maka pastilah banyak yang mengecewakan dalam hidup ini. Kalau yang kita fikirkan adalah berjuang, niscaya banyak kesenangan yang akan kita dapatkan.
Pikiran dan keinginan setiap orang tidaklah selalu sama, tidaklah mudah atau hampir mustahil untuk mengakomodasi semua keinginan itu, tetapi berpihak pada satu keinginan orang bukanlah sikap yang adil. Objektif, netral dan kemandirian sikap adalah kompromi terbaik yang bisa ditempuh.
Pikirkanlah secara jernih dan masak-masak segala pilihan yang akan diambil, dengan mempertimbangkan banyak aspek, jangan lupa mohonlah petunjuk kepada NYA. Jika pilihan sudah dijatuhkan, yakinlah dalam pilihan itu,dan jangan pernah bergeming walau evaluasi tetap perlu. Jika sudah demikian kesalahan tetap bernilai 1, sedang pilihan benar bernilai 2. Berbuat baiklah pada semua orang, walau berbeda pandangan dan pendapat. Kebaikan perbuatan dan akhlak lebih bernilai daripada kebenaran dan kebaikan pendapatmu sendiri.
Galilah lebih dalam setiap proses memperoleh ilmu dan pengetahuan.Tidak pernah ada jalan pintas untuk memperoleh kedalaman ilmu dan pengetahuan. Bekerja dan berjuanglah dengan giat , karena tidak pernah pula ada jalan pintas untuk mencapai kemakmuran, apalagi jalan pintas menuju surga. Meski surga itu seluas langit dan bumi bukan berarti jalan masuk kesana mudah. Tekun ibadah dan berbudi mulia adalah jalan untuk memperoleh itu.
Nasehat di atas adalah untuk kebaikan diri saya sendiri, tapi saya ingin sharing dengan teman-teman semua. Karena bagi saya, sebuah nasehat (nasehat yang baik, red) berarti satu kebaikan akan kita dapatkan. Mengapa?? Sebab bila kita menjalankan nasehat tersebut, Insya Allah kita akan berubah menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya, Amin.
Baca Selengkapnya...
19 Mei 2009
Kenanglah...
Tali silaturahmi ataupun persahabatan yang telah kita bina janganlah sampai terputus, baik itu hanya karena perselisihan yang kecil ataupun karena terpisah jarak dan waktu. Karena pada dasarnya dibalik semua kenangan yang pernah kita lalui bersama mereka, tersimpan begitu banyak pelajaran penting nan berharga bagi kita untuk melalui kehidupan di dunia yang fana ini.
Banyak orang telah keluar masuk dalam kehidupan kita. Ada yang melintas sejenak, namun begitu membekas. Ada yang lama beiringan dalam suka dan duka, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, tapi senantiasa melekat di hati. Tak jarang ada juga yang sekedar numpang lewat seolah tak pernah hadir. Semuanya itu pernah singgah dalam hidup kita bagaikan benang- benang warna warni sulaman permadani hidup kita.
Maka luangkanlah waktu sejenak untuk mengenang mereka yang pernah hadir dalam hidup kita. Kenanglah seluruh kebaikan mereka. Anggaplah kejelekan yang ada pada diri mereka hanyalah sebuah kesalahan yang sangat sangat kecil diantara segunung kebaikan yang pernah ada. Mereka mungkin adalah orangtua yang dulu sering memarahi kita. Guru yang galak, sanak saudara, teman ataupun sahabat. Tak ada salahnya juga mengenang mereka yang pernah menyakiti dan melukai perasaan kita. Semua tetap layak kita kenang dalam memori kita. Bahkan tak jarang ada seseorang yang hanya kita kenal namanya, tetapi telah menghantarkan banyak kebaikan tanpa prasangka. Mereka adalah orang-orang yang telah turut menyumbang menyulam permadani, memberi rona lukisan permadani hidup kita.
Kenang-kenanglah selalu mereka dalam derasnya doa kita senantiasa.
Kenanglah selalu mereka dalam kebaikannya saja, lupakanlah segalanya yang pernah membuat hati kita terluka.
"Jika kamu menyatakan suatu kebaikan atau menyembunyikannya atau memaafkan suatu kejahatan [kesalahan seseorang],... maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. [ An Nisaa' ; 4:149 ]
Adaptasi : Resonansi
Untukmu para sahabatku yang telah membaca tulisan ini, Insya Allah aku akan selalu mengenangmu. Salam persahabatan....
Baca Selengkapnya...
24 April 2009
Sombong..
Hari gini masih suka sombong??? Tapi itulah kita, manusia. Tidak bisa dipungkiri rasa merasa lebih dibanding yang lain baik dalam urusan pekerjaan/kreatifitas, harta, kedudukan, dll itu sering muncul (masih menyambung ke postingan sebelum nya disini). Entah itu kita sengaja ataupun tidak. Dan seyogyanya kita mampu mengontrol rasa kesombongan yang muncul dalam diri kita tersebut.
Seperti halnya kisah berikut ini yang diambil dari buku "You Are A Leader":
Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya, ''Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?''
Orang bijak menjawab, ''Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu.''
Sahabat, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah, sombong sering disebabkan karena faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih cantik, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong sering disebabkan faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, lebih bijaksana dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong sering disebabkan faktor kebaikan. Kita seringkali menganggap diri kita lebih berakhlak, lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan ini, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi akan sangat mudah terlihat tetapi sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih yang halus di dalam hati kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Pada tataran yang wajar, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Namun, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Bahkan, seringkali batas antara bangga dan sombong tak terlalu jelas.
Diri kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan diri sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita sepenuhnya berada dalam kutub diri sejati, kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Kita sama sekali bebas dari materi apapun. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, kita mulai memiliki berbagai kebutuhan materi. Bahkan, lebih dari sekedar yang kita butuhkan dalam hidup, kelima indra kita selalu mengatakan bahwa kita membutuhkan yang lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup seringkali mengantarkan kita menuju kutub ego. Perjalanan inilah yang memperkenalkan kita kepada kesombongan, kerakusan, serta iri dan dengki. Ketiga sifat ini adalah akar segala permasalahan yang terjadi dalam sejarah umat manusia.
Perjuangan melawan kesombongan sebenarnya adalah perjuangan menarik diri kita ke kutub diri sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya ada dua perubahan paradigma yang perlu Anda lakukan.
Pertama, Anda perlu menyadari bahwa hakikat manusia adalah diri sejati, kita bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Diri sejati kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah syarat kita untuk hidup di dunia. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan kita mati pun tanpa membawa apa-apa. Pandangan seperti ini akan membuat Anda melihat siapapun sebagai manusia yang sama. Anda tidak akan lagi tertipu oleh penampilan, kecantikan, dan segala ''tampak luar'' yang lain. Yang kini Anda lihat adalah ''tampak dalam.'' Pandangan seperti ini sudah pasti akan menjauhkan Anda dari berbagai kesombongan.
Kedua, Anda perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang Anda lakukan, semuanya itu semata-mata adalah untuk diri Anda sendiri. Anda menolong orang untuk kebaikan Anda sendiri. Anda memberikan sesuatu kepada orang lain adalah untuk Anda sendiri. Dan hanya mengharapkan balasan dari Allah SWT (ikhlas).
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi: Energi yang Anda berikan kepada dunia tak akan pernah hilang. Energi itu akan kembali kepada Anda dalam bentuk yang lain.
Ingat!! Kebaikan yang Anda lakukan pasti akan kembali kepada Anda dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun kepuasan batin yang mendalam.
Jadi, setiap berbuat baik pada orang lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apalagi yang harus kita sombongkan. Yang layak untuk sombong hanyalah Allah SWT (yang maha segalanya).
So.. masih mau sombong????
Baca Selengkapnya...
14 April 2009
Pohon Yang Kehilangan Roh nya
Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Mereka berteriak-teriak pada pohon tersebut dengan tujuan supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama-sama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari lamanya. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati. Dengan demikian, akan sangat mudah bukan untuk ditumbangkan dan dirobohkan??
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan "roh"nya. Yang bila dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama maka makhluk hidup itu akan mati. Bisa saja bukan mati raganya, tapi jiwanya yang mati.
Nah, sekarang, kita jadi tahu bahwa setiap kali Kita berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Kita sedang mematikan rohnya.
Marilah kita mulai merenung masing-masing:
Ayo cepat ! Dasar leletan? Bego banget sih. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan? Ayo, jangan main-main disini. Berisik ! Bising !? Dan aneka teriakan yang lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
Pernahkah Anda berteriak kepada orang tua Anda karena merasa mereka membuat Anda jengkel ?
Kenapa sih makan aja berceceran ? Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu? Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar ? Ibu, tolong nggak usah cerewet, bisa nggak? dan seterusnya ....
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak!Iii!Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa ! Aduh. Perempuan kampungan banget sih !?dan seterusnya....
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya?
E, tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesel?
E tahu ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel. Ada banyak yang bisa gantiin kamu?Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?
Ingatlah ! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita.
Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas. Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak. Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya. Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
Sumber: email dari sahabat - thanks friend...
02 April 2009
Tolonglah Diri Anda Sendiri
Tiba-tiba seorang nelayan menghampiri pemuda tersebut dan berkata...
"Tentu" jawab si pemuda.
"Tolong jaga tali pancingan ini sebentar". "Ada keperluan yang harus saya bereskan di ujung jalan sana," lanjut nelayan itu.
Sang pemuda dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Sewaktu ia menjaga pancingan nelayan itu, ikan-ikan mulai menggigiti umpannya, dan ia pun mulai menangkap ikan-ikan tersebut. Dalam sekejap, ia mulai tersenyum lebar, menikmati aktifitasnya.
Ketika si nelayan kembali ia pun berkata...
"Saya memberikan kepada Anda ikan-ikan yang telah saya janjikan".
"Ini, ambilah semua ikan yang telah Anda tangkap". "Tetapi saya juga akan memberikan sedikit nasihat bagi Anda".
"Lain kali, saat Anda memerlukan sesuatu, jangan menghabiskan waktu Anda dengan berkhayal dan berharap bahwa Anda akan mendapatkanya."
Semoga bermanfaat......
Baca Selengkapnya...
26 Maret 2009
Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, kekalahan, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya semua hanyalah angan semata dan menghadirkan nelangsa/kekecewaan yang begitu mengguncang jiwa.
Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat jiwa ini terguncang masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak dan keinginan.Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa kita dapatkan, dan tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan terkadang kita sulit sekali menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi.
19 Maret 2009
Layak kah Kita Untuk Sombong???
Sudah menjadi watak manusia untuk selalu ingin "lebih" dari yang lain. Lebih dalam hal segala hal. Bahkan tidak jarang menjadikan diri kita (manusia, red) menjadi sombong atau takabbur. Terkadang kesombongan kita juga di "bumbui" dengan prasangka atau "negative thinking" pada yang lain. Yang semua itu hanya untuk lebih mengukuhkan bahwa "I am the best among others"
Seperti halnya kisah berikut ini.
Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa.
Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri, berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.
Doa pertama mereka panjatkan, mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.
Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.
Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya . Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.
Akhirnya , lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain
pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkah tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.
Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema: "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada disisi lain pulau ini?"
"Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan", jawab lelaki ke satu ini. "Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak pantas mendapatkan apa-apa".
"Kau salah!" Suara itu membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa- apa".
"Katakan padaku", kata lelaki ke satu itu. "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berhutang atas semua ini padanya?"
"Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"
Renungan:
Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Sadarilah betapa banyak orang yang telah mengorbankan segala
sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai seseorang/sesuatu hanya dari yang terlihat saja.
Semoga bermanfaat dan bisa menjadi renungan bagi kita semua...
Baca Selengkapnya...
