14 Januari 2009

Waktu Tidak Bisa Berputar Kembali....




Saat tua nanti, ketika duduk bersimpuh di depan cucu-cucu kelak kita akan bercerita, “Dulu nenek/kakek itu….”


Semua kisah perjalanan hidup akan kita putar kembali, mencoba memperdengarkannya kepada anak-anak dan cucu. Berharap mereka mau belajar dari apa-apa yang sekarang menjadi catatan sejarah.

Ketika renta nanti, saat tubuh tak mampu berbuat banyak karena sudah teramat lemah, kita akan berkata di depan cucu, “dulu nenek/kakek kuat, tenaganya besar, mampu mengangkat beban seberat puluhan kilogram…” dan seterusnya.
Namun saat menceritakan itu, air mata berlinang tak terasa... Karena tenaga besar dan kekuatan yang kita punya kala muda dulu ternyata tak digunakan untuk banyak membantu orang-orang lemah, tak berguna bagi kehidupan orang lain yang benar-benar memerlukan pertolongan.


Sewaktu wajah sudah mulai keriput, tak tampan atau cantik lagi, kita mencoba memberikan senyum termanis agar tetap mempesona, cerita pun mengalir, “Kakek itu dulu ganteng, senyum menawan, banyak gadis yang tertarik….” Atau,

“Dulu nenek jadi primadona, banyak lelaki antri untuk melamar…”.
Sewaktu menceritakan hal itu, sesungguhnya kita tengah meratapi betapa tak berharganya keelokan wajah saat tua tiba. “Kenapa dulu saya mengagung-agungkan sesuatu yang bakal sirna?”Saat rapuh nanti, ketika kaki ini begitu berat untuk diangkat, kita pun bercerita, “dulu kakek pendaki gunung, sering menjelajah ke banyak Negara, banyak tempat-tempat hebat…” dan masih banyak lagi. Walau demikian, sesungguhnya saat bercerita itu kita pun menangis, menyesal karena selagi muda tak banyak melangkahkan kaki untuk beribadah, menjelajahi rumah-rumah yatim piatu dan fakir miskin untuk mengulurkan bantuan.

Ketika mata ini rabun, tak mampu lagi membaca bahkan huruf-huruf yang diperbesar sepuluh kali lipat sekalipun, kita bercerita, “kakek itu kutu buku, ribuan buku sudah kakek baca sehingga banyak ilmu yang kakek pelajari…”.
Tetapi kita pun tak kuasa membendung kesedihan disaat yang sama, karena diantara ribuan buku yang rajin kita baca, kita lupa menyelipkan membaca kitab suci diantaranya.
Dibanyak waktu yang kita punya untuk membaca buku, tak menyisihkan waktu yang cukup untuk menikmati pesan-pesan terkandung dalam kitab suci. Kala tua menyapa, akal tak mampu lagi bekerja banyak. Pikun menjadi penyakit utama, lupa sudah apa-apa yang dulu pernah menjadi prestasi terbaik, maka kita pun memaksa bercerita, “dulu kakek…. eh lupa… kakek itu, hmmm,… eh lupa lagi…”.
Padahal dulu ketika muda pun kita memang kerap terlupa, lupa beribadah, lupa bersedekah dan infak, lupa pula ... membenahi kekurangan dalam diri.


*************

Sekarang, sebelum kita benar-benar tua. Selagi wajah masih tampan dan cantik, mumpung tenaga masih kuat, kaki masih mampu jauh melangkah, dan yang pasti selagi usia masih menyatu dengan raga, mari lakukan yang terbaik untuk bisa kita ceritakan kelak untuk anak dan cucu di hari tua.
Agar mereka mendapatkan pelajaran berharga dari lidah-lidah yang gemetar bercerita pengalaman masa lalu yang selalu indah. Itu hanya bisa dimulai dari sekarang, sebelum masa tua itu tiba.



Kawan, waktu yang kita punya hanya sebentar dan itu sangat berharga. Ia takkan mungkin kembali, jangan sampai kita menyesal di hari tua nanti. Sebelum masa itu tiba, mulailah menghargai waktu, semoga - (Terima kasih atas inspirasi dari Bayu Gawutama)

22 komentar:

Indra Putu Achyar mengatakan...

hayyyah... bunda waktu kecil dulu suka kayak gitu yak... hehehe.
met malm ja yak bund, met istirahat...

marsudiyanto mengatakan...

Semoga kita masuk kategori orang yang bisa menghargai dan memanfaatkan waktu, karena waktu tak bisa diulang...
Sukses buat Mbak Peni, salam buat keluarga..

Erik mengatakan...

Iya bunda, waktu takkan pernah kembali.

Mari kita manfaatkan waktu dengan sebaik baiknya. agar hidup kita lebih bermakna

SUPRIH dan ISTI mengatakan...

memang benar bunda. Waktu kita hidup di dunia semakin habis. Kecuali oleh anugrah Allah kita mampu hidup lebih lama. . . . .

Setuju ama bunda yang mana kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin

mama icel mengatakan...

kayaknya gak usah nunggu jadi aki dan nini ya??sekarang aja kita suka bilang ma anak2 "dulu waktu mama masih kecil" atau "dulu waktu mama masih remaja".....sok tua dan merasa banyak pengalaman dari anak2padahal dari mereka pun kita bisa belajar banyak...

btw,jadi ngebayangin gimana kalau bunda medani jadi nenek2 ya?? masih cantik dong...pasti lucu dan ngegemesin...hehehe *peace*

Umi Rina mengatakan...

Dari 24 jam sehari, berapa jamkah waktu yang kita isi untuk persiapan "Masa Depan" yang sesungguhnya??? :)

ahmadx mengatakan...

berlomba-lombalah dalam kebaikan,jangan biarkan waktu anda sia-sia,terus berusaha & tetap semangat sob..

mocca_chi mengatakan...

waktu memang tidak bisa berputar kembali, namun dalam mimpi, semua bisa terjadi. hanya saja, kita hidup dalam kenyataan, bukan dalam mimpi.

Angsoka47 mengatakan...

makasih ya jeng, tuk selalu mengingatkan....

Veterinarian mengatakan...

semoga Allah SWT memberi kt umur panjang yang bermanfaat ya shg saat usia tua nanti kt jg ttp mjd orang tua yg membawa manfaat dan tentunya kt berharap menghadap Ilahi dgn khusnul khotimah

Kamilia mengatakan...

yups..idem bunda, semoga kita bisa menghargai waktu yang berharga ini,sehingga penyesalan tidak akan datang pada masa tua kita...

KABASARAN mengatakan...

Betul ibu ..waktu ngak akan pernah berputar kembali ....bagiku hikmah hidup dapat dilihat dari sebuah penggaris tua :
Penggaris bagiku adalah sebuah masa kehidupan, kelahiran dimulai dari ujung sisi kirinya , kematian berada diujung sisi kanannya dan terserah anda mau mulai dari sisi yang mana kelahiran anda yang jelas sisi lainnya adalah kematian.

Penggaris bagiku adalah sebuah “alarm”, setiap kali memandangnya ada sesuatu yang bergerak pasti dari sisi kelahiranku mili demi mili, senti demi senti menuju sisi kematianku sehingga aku sadar keterbatasan waktuku.

Penggaris bagiku adalah “kompas”, setiap saat aku dapat mengkonversikan sisi kirinya ke umur tertentu yang menjadi ekpektasiku dan dengan jernih aku dapat melihat dimana posisiku saat ini apakah lebih dekat ketitik kelahiran atau ke titik kematian.

Penggaris bagiku adalah “penjaga arah”, setiap kali memandangnya aku selalu diingatkan akan sesuatu yang pasti yang menanti di ujung sana sehingga ia menjagaku dari berlupa diri.

Penggaris bagiku adalah “rambu atau batasan”, ia selalu mengingatkanku bahwa setiap ada awal tentu juga ada akhir, setiap ada kelahiran tentu ada kematian.
Adakah arti sebuah penggaris bagi bunda ?
Neldy Kabasaran
Htpp://kabasaran.blogspot.com

EvieJPu mengatakan...

setuju sama http://www.blogger.com/profile/14610870378283697793

Sukses buat kita semua.
masak sih ngga bisa komen? coba lagi ya..brgkl dah bisa..thx

LAPTOP COMPUTERS mengatakan...

seandainya waktu bisa diputar kembali ke belakang, saya ga mau ngutang......

Asih Evan mengatakan...

bagus sebagai bahan renungan say..salah satu yang membuat aku berani mengambil keputusan utk resignt..takut menyesal karena tidak mencoba sesuatu yang aku inginkan. Sementara waktu tidak akan menunggu...

Budiawan Hutasoit mengatakan...

terima kasih ya bunda..udah mengingatkan...

jadi ingat film "Back To The Future" ... kira-kira bisa ngga ya waktunya diputar..

widie mengatakan...

Postingannya bagus neh kadang atau malah sering kali membayangkan ah seandainya ada mesin waktu kepengen balik ke masa2 yg enak atau yg menyenangkan, masa muda tanpa beban hidupnya cm seneng-seneng...aja hehehe kl sekrg kan udah pusing begt besar beban yg dipundak hiks...anak udah dua gini haiyaaahh udah tua banget kaannnn hehehe

Lyla mengatakan...

seandainya wkt bisa diputar kembali, aku pengin jadi orang yang baik

achmad sholeh mengatakan...

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik, salam kenal

Febrie Pereiza mengatakan...

moga2 kita bisa memanfaatkan tiap waktu yg berharga ini ya ..

mommy adit mengatakan...

Duh.. "kena" banget nih tulisan.. Kadang sadar krn waktu dibuang percuma, tapi kok tetep aja begitu.. Kalau betul2 di manfaatkan, mungkin sekarang sudah berada di rumah, mendampingi si kecil tapi tetap menghasilkan.

Sekarang, mari kita coba lagi..memanfaatkan waktu ini.. prospek prospek.. prospek tiap hari... (hahahaha.... dasar orang MLM..)

ayuzuricha mengatakan...

iya mbak, jadi inget kadang aku dah buang banyak waktu. gini ini nyesel kok nggak ngerjain dari dulu, ketunda-tunda. ya nasib .... :(